Rabu, 15 September 2021

Hidupku Tak Sepolos Wajah Anak TK



Ya inilah saya, wanita sederhana dengan nama lengkap Laila Nur Fauziah. "iil" biasa orang sekitar memanggil nama saya. Saya merupakan anak pertama dari pasangan bapak Ahmad Fauzi dan ibu Zubaidah.

Cerita ini dimulai dari 8 tahun silam. Yang dimana pada saat itu saya masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD), duduk di kelas 6 tepatnya.

Duduk di kelas akhir pendidikan dasar mengharuskan saya untuk memilih jalur sekolah mana yang akan saya tempuh kedepannya. Dengan banyak pertimbangan saya memutuskan untuk membulatkan isi hati dan pikiran dengan melanjutkan di lingkungan pesantren. Walaupin didalamnya terdapat banyak drama pro dan kontra antara orang tua, tetapi hasil akhirnya takdir baik sedang berpihak kepada saya. 

Hari yang saya tunggu tiba. Hari dimana saya belajar untuk hidup jauh dari orang tua. Hari dimana saya dituntut untuk bisa mandiri dengan cepatnya. Hari dimana saya dipaksa bisa berinteraksi dengan lingkungan baru yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Tepatnya hari Sabtu, tanggal 28 Agustus 2014. Hari itu menjadi saksi terbentuknya sejarah baru yang akan saya lewati kedepannya. 

Memasuki dunia baru pasti ada rasa aduk campur tak rata. Tetapi saya meyakinkan diri bahwa saya bisa. Memilih untuk tidak terlihat lemah saat dikunjungi orang tua. Ada rasa ingin mengadu saperti kebanyakan anak pada umumnya. Akan tetapi otak jernih saya berkata "itu hanya akan membuat beban orang tuamu bertambah" akhirnya saya memilih diam. Berpura pura bahagia meskipun itu jauh dari kenyataannya. Menumpahkan semua beban diri sendiri saat orang tua sudah sampai di kediaman.

          2 tahun akhirnya bisa saya lewati. Dengan pengalaman-pengalaman baru yang tak dapat saya tebak akan seperti apa, dengan pengalaman-pengalaman baru yang tak bisa saya request akan bagaimana terjadinya. Tetapi Alhamdulillah, Allah masih mentakdirkan saya menjadi salah satu orang yang harus tetap berjuang di jalan-Nya. Tidak seperti kebanyakan teman saya yang memilih berhenti berjihad dikarenakan adanya beberapa alasan, pelanggaran bahasa contohnya. Ini tentu menjadi momok terbesar di kalangan santri, apalagi untuk anak baru. Karena bisa sekali saja bercakap menggunakan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah akan menjadi buronan kakak kelas ataupun dari bagian penggerak bahasa sendiri. Dicatat lalu dilaporkan. Hukumannya beragam, mulai dari mencari 10 kosa kata dalam bahasa asing lalu dibuat 3 kalimat dari setiap kosa katanya, atau membuat cerita dari satu kaca hingga 2 lembar kertas biasa. Ancamannya memakai kerudung pelanggaran bagi anak yang melanggar 4 kali dalam satu minggunya. 

          Masa liburan akhirnya tiba. Masa dimana surganya para santri bisa berkumpul bersama dengan keluarga, masa dimana para santri bisa bercengkrama kembali dengan teman lama, masa dimana para santri tidak terikat oleh kegiatan-kegian asrama yang begitu padatnya. 

         Yeah akhirnya....

        Tetapi ada perbedaan diantara liburan ini dengan sebelum-sebelumnya. Bapak saya mulai sakit sakitan. Yang seharusnya menjadi momen bahagia, namun tidak untuk saat itu. Tubuh bapak saya mulai kurus hingga tulang-tulangnya nampak terlihat dengan jelas. Semakin hari semakin tidak ada kemajuan untuk kesehatan beliau hhmm......🙂

        Waktu berjalan dengan begitu cepatnya, tidak mau bersahabat dengan saya yang masih ingin berlama-lama dengan bapak. Dapat saya ingat betul tepat sehari sebelum saya kembali ke rutinitas di lingkungan pesantren, untuk pertama kalinya bapak menangis di depan mata kepala saya dan saudara " kalau saya sudah tiada gimana dengan nasib kamu selanjutnya nak" ungkapnya. Niat hati untuk tidak ikut meneteskan air mata tapi apalah daya, dia tetap ikut hadir dengan sengaja. Saya memilih untuk pergi meninggalkan bapak. Karena saya tidak begitu tega melihat  beliau menangis, memikirkan nasib saya jika beliau benar akan menghadap Sang Pencipta.

         Tepat keesokan harinya saya harus berangkat kembali untuk menjalankan rutinitas semula. Meninggalkan keluarga untuk menyongsong hari indah nantinya. Mulai mengikuti semua peraturan pondok, mulai melupakan semua kegiatan di rumah. 

          14 hari saya lewati. Saudara saya datang, mengajak pulang secara tiba-tiba. Belum saya ketahui alasan pastinya. Tetapi rasa cemas tidak bisa diajak kompromi, mengharuskan saya bertanya "ada apa ini Ya Allah". Setelah melalui proses perijinan yang begitu panjang dan sulit akhirnya saya bisa pulang. 

           Heran tak kepalang, diajak pulang tetapi bukan menuju perjalanan rumah. Selang beberapa menit saya tahu tempat mana yang di dimaksud. RS. Rizani Paiton, tempat itu menjadi saksi bisu terbujur lemahnya bapak yang begitu saya cintai. Rasa pusing tak tertolong kan, menangis meratapi bapak yang sudah tidak bisa mengingat dengan jelas. Saya beruntung,   masih ada sisa sedikit nyawa bapak yang menjadi keyakinan saya, bahwa Tuhan akan mengijinkan tubuh beliau bekerja dengan semestinya. 

           Selepas subuh hari Selasa, tanggal 26 Juli 2016  takdir alam berkata lain, mengajak bercanda yang tidak bisa saya terima dengan tertawa. 

            Tubuh bapak  kaku, menyisakan tangisan dan kenangan yang tidak bisa saya hapus dalam memori daya ingat. Cobaan terberat dalam sejarah hidup saya rasakan, kehilangan sosok cinta pertama yang tidak bisa digantikan posisinya sama siapapun dan sampai kapanpun. Saya sadar, saya bukan anak yang bisa menerima dengan lapang dada. Tapi Tuhan jauh lebih sayang kepada beliau, mengambil posisi keluarga kecil saya untuk lebih dekat dengan beliau. Allahummaghfir lahum, aamiin.....

           Tak lepas setelah 3 hari kepergian beliau saya harus kembali pada kewajiban, menjalani rutinitas semula. Menjadi seorang santriwati yang berjihad di jalan-Nya. Saya akui berat memang, menyandang status anak yatim yang tidak pernah saya cita-citakan sebelumnya. 

           Mau tidak mau saya harus bisa, memaksa bibir untuk selalu tersenyum dan memaksa hati untuk bisa menerima. 

           Singkat cerita pada saat saya duduk di kelas akhir Pendidikan Tsanawiyah ibu membujuk, agar saya tidak melanjutkan di pondok. Mengingat biayanya yang cukup besar takut tidak bisa melunasi. Tetapi dalam hati kecil saya tidak dapat menerima bujukan ibu tersebut dengan begitu saja. Saya ingin tetap lanjut, menggali ilmu agama sedalam-dalamnya. 

            Dan lagi-lagi takdir baik berpihak kepada saya, Alhamdulillah.

            Semakin tinggi tingkatan kelas, semakin saya disibukkan dengan mengikuti banyak peran penting. Mulai dari menjadi pengurus kamar, pengurus keorganisasian dan masih banyak lainnya. Satu hari, sepekan, satu bulan, berjalan dengan begitu cepatnya. Rasa pahit, manis dan hambar sudah menjadi teman paling setia. 

          Tak terasa perjalanan saya sudah tinggal satu tahun lagi. Ini artinya saya akan segera meninggalkan lingkungan pondok pesantren tercinta. Ada rasa senang karena akan segera berkumpul dengan keluarga, ada juga rasa sedih karena mengingat tidak akan ada waktu lagi untuk bisa bersama dengan teman seperjuangan. Kalaupun ada perkumpulan pasti ada salah satu yang tidak bisa mengikuti acaranya, hhmm takdir alam.

         Duduk di kelas akhir tingkat Aliyah, saya sudah mulai resign dari semua organisasi. Ini bertujuan agar lebih fokus saat menjalani ujian akhir nanti(Ujian Niha'ie) namanya. Ujian ini menjadi ketakutan bagi semua kelas akhir, karena materi dari awal masuk Tsanawiyah sampai kelas akhir Aliyah akan diujikan. Tapi alhamdulilah nya masih dibagi menjadi dua gelombang, terdiri dari gelombang pertama dan kedua. 

        Ada satu hari yang paling saya ingat. Saat itu di kelas waktunya pak Bahtiar mengajar, dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Kemudian beliau bercerita panjang lebar tentang kakak kelas kami, Dony Tri Widodo. Beliau mengatakan bahwa kak Dony dapat dicontoh, karena beliau adalah calon orang sukses. Saya dan teman-teman pun mulai antusias mendengar cerita pak Bahtiar tersebut. Tetapi setelah pak Bahtiar menyebut bahwa syaratnya adalah harus memiliki surat kematian bapak, teman-teman mulai kecewa, berbeda dengan saya yang ingin sekali mengikuti jejak kak Dony. Alhamdulillah saya sudah mulai punya pandangan. Dari situ saya sudah ada niatan untuk menanyakan hal yang lebih dalam mengenai MEC pada kak Dony. 

           Acara wisuda digelar

          Saya mulai penasaran, dimana saya akan ditempatkan untuk menjalani kewajiban mengabdi dalam kurun waktu 1 tahun. Program pengabdian ini sebagai syarat untuk pengambilan ijazah nantinya. Hanya satu yang saya harapkan, tidak ditempatkan di dalam pondok. Karena saya merasa tidak pantas untuk mengabadikan diri di pondok. Saya faqir ilmu, akhlak saya juga masih kurang.  Saya memilih untuk ditempatkan di lembaga luar, agar saya juga mendapatkan pengalaman yang berbeda, agar saya tau bagaimana berjuang untuk mengharumkan nama pondok. 

             Ternyata Allah kabulkan, saya dipilih untuk menjalani pengabdian di desa wedusan, kecamatan Tiris, kabupaten Probolinggo. Ber dua dengan teman saya, Rifka. 

            Saya sadar, saya bukan orang pintar. Tetapi di dalam mengabdi saya dituntut untuk tampil profesional layaknya seorang guru. Materi yang akan saya ajarkan, saya pelajari terlebih dahulu. Agar nanti saat menerangkan di dalam kelas saya sudah dapat menguasai semua materinya, dan juga saat ada pertanyaan dari murid saya bisa menjawabnya dengan benar. 

           Mau hidup dengan siapapun, mau berinteraksi dengan lingkungan dimana pun... namanya juga hidup pasti tak jauh bertemu dengan yang namanya masalah. Yeah, itu yang saya alami bersama dengan teman saya Rifka. Mulai dari ketidak cocokan bapak pengasuh terhadap perilaku dan cara mengajar kami, padahal sudah kami usahakan semaksimal mungkin agar cocok dengan kemauan beliau yang kadang kala suka berubah hhmm. Mulai tidak kerasan karena setiap harinya yang ada hanya perasaan jenuh dan bosan, akibat dari kegiatan kami yang tak lepas dari mengajar, tidur, dan makan. Sementara jiwa dan raga kami juga butuh di refresh. Letak strategis tempat kami juga merupakan daerah pegunungan, tak heran jika warganya rata-rata awam dengan kehidupan di luar. 

          Akhirnya, berkat kesabaran yang kami tahan selama satu tahunan selesai juga. Tugas kami lunas, mengabadikan diri di lembaga yang telah ditentukan. 

         Sekarang saatnya saya memfokuskan diri untuk masa depan. Tidak ada keinginan lain selain MEC. Karena dari MEC saya yakin pasti bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, yaitu menjadi wanita yang berkualitas dan berkelas. Tidak menuntut kemungkinan, meskipun saya seorang wanita tetapi saya juga bisa merubah derajat keluarga saya menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya. Aamiin

          Semua berkas saya siapkan sebagai persyaratan masuk di Diklat kemandirian. 

          Alhamdulillah saya menjadi salah satu dari peserta yang diterima.

          Dan saat ini saya sudah menjadi keluarga dari MEC, tentunya bangga sekali. Bisa kenal dengan orang-orang yang luar biasa hebatnya. 

                                                                                                             Sekian, terimakasih.

0 komentar:

Posting Komentar